Balai Diklat Industri Jakarta

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Berita
Berita

Industri Kreatif Membangun Perekonomian Bangsa

E-mail Print PDF

Menurut Prof. Richard Florida yang merupakan Tokoh Ekonomi pembangunan ada 3 hal Yang dibutuhkan dalam industri kreatif adalah Talenta, Teknologi dan Toleransi. Untuk talenta mungkin sudah banyak para industri kreatif yang mampu untuk bersaing dengan produk import karena produknya yang berkualitas, unik, dan murah.

Terbukti mampu memberikan kontribusinya terhadap PDB Indonesia senilai Rp 104,6 triliun. Bahkan, menurut data Admob Mobile Metrics pada Februari 2010, Indonesia menempati urutan keempat setelah AS, India, dan Inggris, berdasarkan permintaan advertising melalui mobile advertising dengan total permintaan sebesar 520.476.525 dan share 3,7 persen dibandingkan negara lain di seluruh dunia. (Berdasarkan data Kementrian Perdagangan dan Industri)

Menurut saya ada dua penghambat industri kreatif untuk terus berkembang dan bersaing dengan produk import yaitu Teknologi dan Toleransi.

 

Banyak yang belum mengenal akan Strategi pemasaran melalui internet yaitu memperluas jaringan penjualan melalui Internet. Karena dengan memasarkan produk melalui internet, produk kita lebih dikenal banyak orang. Strategi bisnis ini dapat menjangkau manusia tanpa batas ruang dan waktu. Sehingga timbullah istilah pemasaran menggunakan internet, atau Internet Marketing.

Sebagai contoh pada Forum Kaskus.Us, banyak industri kreatif yang memasarkan produknya di sana dan sudah terbukti banyak yang mampu memperluas pasar dengan cara mempromosikan produk secara online.

Tapi bagaimana untuk industri kreatif di plosok desa? Itu PR untuk pemerintah dan kita untuk mendukung mereka agar melek teknologi.

Dukungan pemerintah akan industri kreatif ini juga sangat berarti, karena banyak industri kreatif yang terhambat pengembangannya, Pemerintah harusnya berusaha untuk mendorong industri  yang strategis untuk maju. Mereka membutuhkan pemerintah dalam beberapa hal seperti pemberian insentif, pembiyayaan, HAKI, dan juga promosinya.

Cara lain untuk mendukung industri kreatif indonesia adalah dengan cara pengurangan import produk luar ke indonesia guna pengurangan konsumsi rakyat indonesia terhadap produk luar yang nyatanya produk dalam negeri juga tidak kalah kualitasnya dengan produk import.

Kalau industri kreatif indonesia dapat berkembang dengan baik tentu ini juga merupakan upaya memajukan bangsung khususnya dalam bidang ekonomi.

 SmileSmileSmileSmile

Last Updated on Wednesday, 02 June 2010 11:48
 

Milis TPL

E-mail Print PDF

Bagi Mahasiswa TPLyang akan gabung di milis

Group Email Addresses

atau kirim email ke This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

Sekilas hasil diklat kemasan

E-mail Print PDF

 Sekilas hasil diklat kemasan

Kemasan (packaging) sesungguhnya telah dikenal sejak jaman nenek moyang kita dahulu, telah kita ketahui bersama bahwa Indonesia sangat kaya akan kebudayaannya yang beragam, misalnya seperti kemasan yang digunakan pada upacara adat pernikahan, atau mengunjungi kerabat, mereka mengemas hantarannya dengan begitu indah dan menarik, setiap daerah mempunyai ciri khas kemasan masing-masing.

Apabila kita mengunjungi super market, betapa beraneka ragamnya kemasan dari produk-produk yang sejenis, bahkan kadang-kadang pada saat memperingati event tertentu, kemasan dari produk yang serupapun akan ditampilkan secara berbeda pula.

Dalam Era globalisasi sekarang ini, nampaknya persaingan tidak hanya kepada mutu daripada produk-produk yang dihasilkan, tetapi bagaimana produk itu dikemas, sehingga banyak produk-produk IKM dalam negeri yang kalah bersaing dengan produk-produk impor.

Dapat dikatakan bahwa fungsi daripada kemasan itu sendiri adalah:

  • Untuk melindungi produk yang dikemas dari kemungkinan terjadinya kerusakan atau degradasi produk, 
  • Untuk melindungi dari pencemaran atau penguapan,
  • Untuk mempermudah dalam pengangkutan atau distribusi,
  • Untuk memperindah produk yang dikemas, sehingga akan menambah value added dari barang yang dikemas, dan meningkatkan harga jualnya.

Kemasan merupakan sebuah konsep inovasi baru untuk menghasilkan suatu produk kemasan dengan mempergunakan teknologi yang memegang peranan sangat penting sebagai alat pemasaran. Perkembangan teknologi kemasan yang demikian pesatnya, mendorong Balai Besar Kimia dan Kemasan selalu berupaya untuk selalu memperbaharui pengetahuan mengenai teknologi kemasan yang dapat dimanfaatkan oleh para pengusaha industri baik kecil, menengah maupun besar.

Banyak hal-hal yang berkaitan dengan kemasan yang diberikan kepada para peserta selama pelatihan ini, mulai dari pengetahuan tentang bahan kemasan, dan teknologi kemasan seperti;

  • Pengetahuan mengenai bahan-bahan yang dipergunakan untuk kemasan, karena bahan kemasan yang dipergunakan untuk produk pangan tentunya akan berbeda dengan bahan yang dipergunakan untuk produk-produk lainnya seperti  pupuk, bahan kimia, kerajinan dan lain-lain. Terutama untuk produk IKM pangan, penggunaan bahan kemasan untuk IKM pangan kue basah, dodol tentu akan berbeda dengan kemasan untuk kerupuk, madu dan lainnya, apakah produk-produk tersebut sifatnya mudah terkontaminasi atau tidak, mudah menguap atau menyusut dan lain sebagainya, apalagi apabila produk-produk IKM tersebut akan diekspor, tentunya kemasannyapun akan lain. Demikian pula, untuk produk-produk kerajinan apakah produk tersebut mudah pecah atau rusak, tentu penanganan dalam kemasannya akan berbeda pula.
  • Pengetahuan mengenai teknologi pengemasan
  • Pengetahuan mengenai design kemasan, merek, label, barcode, hak cipta, P-IRT yang saat ini sudah merupakan persyaratan utama yang harus diketahui dan dipahami oleh para produsen, baik produk tersebut akan dipasarkan di dalam negeri maupun di ekspor.

Peserta diklat kemasan berkesempatan mengunjungi PT Indokonverta Indah, sebuah perusahaan industri kemasan yang terletak di daerah Cileungsi, disana para peserta selain berdiskusi dengan Ibu Ida – Direktur PT Indokonverta dan Pak Felix yang juga merupakan Ketua Asosiasi Kemasan Indonesia, juga diajak keliling pabrik. Dari hasil kunjungan tersebut 6 (enam) IKM yang berada di lingkungan BDI Regional III Jakarta yaitu; Ibu Noor Ambar (Sudin Perindustrian dan Energi DKI Jakarta); Hj Neny R Muhtar (‘NR’-home industry makanan ringan); Hj. Rosyidah (UD. Bumi Mawar); Helda Dewi Damayanti (PT. Safeline Indonesia); Wati Badriah (UD. Madu Sari); Ai Rostiani (Bekkah Ros’n) akan memperoleh binaan lanjutan dalam bidang kemasan secara gratis dari PT. Indokonverta Indah selama 3 (tiga) bulan. Dengan didampingi instruktur peserta juga diajak mengunjungi Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK) untuk melihat-lihat fasilitas laboratorium dan mesin/peralatan yang ada di BBKK.

Diklat kemasan bagi IKM dan TPL Industri ini diselenggarakan atas kerjasama dengan Klinik Kemasan DJ-IKM, BBKK dan praktisi.

image

 

Last Updated on Thursday, 04 March 2010 06:47
 

Donor proliferation and coordination in Indonesia: the case of SME promotion

E-mail Print PDF

Lienda Loebis, MOI – Jakarta
Hubert Schmitz, IDS – Sussex

The question of whether foreign aid works continues to occupy centre stage in the development debate. There is a lot of controversy in this debate but there is agreement that the key issue is hether aid helps the recipients to help themselves. This calls for a focus on state capacity. Aood deal of recent discussion has centred on how the ‘aid architecture’ affects this state apacity, paying particular attention to donor proliferation and its effects on state capacity. here are two views on this connection: one says that more donors means more choices forecipients and coordination amongst donors risks reducing such choices.The alternative view is that donor proliferation fragments state capacity and greater coordination offers the hope of reducing this fragmentation. Donor agencies themselves have recognised that the proliferation of foreign agencies and projects can undermine the capacities they are expected to support. This recognition is enshrined in the Paris Declaration on Aid Effectiveness which commits donor agencies to greater coordination amongst themselves and subordination of their projects and programmes to the recipient governments priorities and systems.
Last Updated on Tuesday, 09 March 2010 20:44 Read more...
 

Java Furniture Makers: Globalisation Winners or Losers?

E-mail Print PDF
Lienda Loebis, MOI – Jakarta
Hubert Schmitz, IDS – Sussex

Abstract

This article is concerned with the question of whether participation in the global economy leads to sustainable income growth. It examines the furniture industry of Central Java, which has grown rapidly since the financial crisis in 1997. The article shows that the exporting small and medium-sized enterprises generated substantial employment and income growth. However, this growth is not sustainable because the viability of exports has become dependent on wood which is logged illegally and risks depletion. Government and donor projects aimed at small enterprises risk driving these enterprises deeper into the race to the bottom. The article then discusses ways to avoid this, stressing the need for a coalition of public and private actors along the local-global axis.

for view all document, please visit :

 Search with google : "lienda loebis"

 

Last Updated on Wednesday, 31 March 2010 22:31
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 2

Konsultan

Chatting Menggunakan

Yahoo Messenger


Sekilas Berita

Bagaimana cara membuat server intranet yang handal???

BDI Jakarta mengadakan diklat dengan topik "Membangun server intranet yang Handal.."

Bagi yang berminat hubungi kami..